Lifestyle, TeknologiApa Arti Dari Sering Upload Foto Pacar Di Internet

Apa Arti Dari Sering Upload Foto Pacar Di Internet

Media sosial kini bisa menjadi ajang pamer bagi sebagian pasangan. Mereka sering menyebutnya sebagai couple goals di mana orang tersebut memiliki hubugan sempurna yang diimpikan semua orang.

Orang seperti ini sangat suka mengunggah segala momen bersama pasangan di media sosial. Mereka seakan ingin mengingatkan kepada dunia bahwa mereka ini adalah bagian dari pasangan sempurna yang dipersonifikasikan.

Memiliki visibilitas hubungan yang sangat tinggi dan berujung pada over-posting tentang pasangan dapat menjadi topeng bagi hubungan yang rawan. Hal tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan The Personality and Social Psychology Bulletin.

Para peneliti menyusun hipotesis bahwa gaya keterikatan, bagaimana kita secara emosional mengikat dan melekat pada orang lain dalam kehidupan, menjadi dasar visibilitas hubungan dan keinginan kita mengunggah.

Para peneliti pun mengemukakan bahwa orang-orang dengan gaya keterikatan penghindaran dari publik, yang cenderung menarik diri akan menunjukkan keinginan visibilitas hubungan yang rendah. Sedangkan mereka yang memiliki gaya keterikatan cemas, yang membutuhkan lebih banyak keyakinan tentang hubungan mereka, akan memiliki keinginan visibilitas hubungan yang tinggi.

Riset ini dilakukan kepada 108 pasangan di kampus dan mereka menyimpan catatan harian tentang hubungan mereka selama dua minggu.

“Setiap hari, ketika orang merasa lebih tidak aman dengan pasangan mereka, mereka akan cenderung membuat hubungannya terlihat oleh banyak orang. Studi ini menyoroti peran hubungan dalam bagaimana orang menggambarkan diri mereka kepada orang lain,” tulis seorang peneliti seperti dikutip dari Huffington Post pada Selasa (27/2/2018).

“Orang-orang yang dihormati dalam hubungan cenderung melepaskan dan menarik diri dari pasangan mereka. Sementara orang-orang yang terikat dengan kecemasan hampir selalu mencari kepastian tentang hubungan mereka, bahkan di media sosial,” ujar Jennifer Chappel Marsh, seorang terapis perkawinan dan keluarga di San Diego, California.

Jennifer menganalogikan pendapatnya ini dengan konsep kencan makan malam. Bagi pasangan penghindar publik akan puas dengan makan malam yang sunyi dan intim. Sedangkan pasangan yang cemas akan hubungannya akan terlalu sibuk dengan media sosial untuk mengekspos kegiatan makan malamnya. Dorongan untuk mendokumentasikan mungkin lebih kuat lagi jika pasangan penghindar merasa tidak nyaman dengan makan malamnya.

“Akibatnya, pasangan yang selalu cemas akan hubungannya selalu mengunggah kegiatannya bersama pasangan untuk mendapatkan likes. Seringkali, mereka mencari perhatian positif karena tidak mendapatkan kepastian dari pasangan mereka,” tambah Jennifer.

Zach Brittle yang merupakan terapis pasangan online forBetter menambahkan bahwa pasangan dari orang yang over sharing foto kebersamaan di media sosial mungkin merasa mengeluh. Bukan hanya karena over sharing, namun juga merasa terganggu karena pasangan mereka lebih memprioritaskan unggahan di media sosial daripada mendapatkan waktu yang berkualitas.

Apapun alasan bagi orang yang suka overposting, yang harus diingat bagi mereka yang melihatnya adalah orang cenderung hanya mengunggah hal-hal yang menarik dari kehidupan mereka. Dan tidak ada alasan pasti mengapa melakukannya.

“Orang-orang yang melakukan oversharing mungkin benar-benar merasa bahagia dan ingin mengungkapkannya di media sosial. Atau ada sesuatu yang ingin mereka buktikan kepada teman-temannya. Bisa jadi unggahannya tersebut menjadi pengalih fokus dari kehidupan mereka yang merasa tidak aman,” ujar Danielle Kepler, pemilik DK Therapy.

Pada akhirnya tidak ada hubungan yang sempurna, seperti yang tergambar di media sosial. Media sosial memungkinkan seseorang untuk menyusun cerita dalam hubungan, meski itu tidak realistis.

Categories: Lifestyle, Teknologi Tags: , ,

Comments

No Comments Yet. Be the first?

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *